Ditinggal istriku beberapa hari membuat ada sedikit ruang di dalam hatiku serasa hampa. Tidak biasanya Pkl 05.00 aku terjaga dan sulit sekali mataku kupejamkan lagi seperti biasanya. Kusempatkan diriku melirik La Tahzan yang lama kusimpan tanpa pernah kubuka. Kesibukan hari-hariku terasa kian padat menyesakkan. Himpitan kebutuhan duniawi dan tekananan keinginan memenuhi seluruh raga. Mengalir dalam setiap tetesan darah, berdetak mengikuti jantungku terdengar seperti bergeraknya jarum jam kecil disebelah tempat tidurku yang terasa keras menusuk telinga.
Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari indah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya menyapa Anda, inilah hari Anda.
Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian. Jangan lupa, hendaklah Anda goreskan pada dinding hati Anda satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda). Harimu adalah hari ini, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda ?
Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi ?
Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip, “aku hanya akan hidup hari ini”. Inilah yang akan menyibukkan diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan. Dan itu akan membuat Anda berkata dalam hati, “Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan karena hanya hari ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku.”
Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’ dan buruk sangka.
Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang yang kelaparan, menolong orang yang kesulitan, membantu orang yang di dzalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil dan berbakti pada orang tua.
“Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu, Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetikpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi”
“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Akupun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satupun darinya yang dapat disebutkan.”
“Hari ini milik Anda”, adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.
(La Tahzan, 6 –
Terjaga aku akan lamunan sesaatku, kudengar air bergemericik dari kamar mandi sebelah bertanda ada seseorang yang telah bangun di pagi ini. Entah apa yang telah merasuk dalam jiwaku tadi tapi yang jelas terasa begitu sejuk. Lalu kuputar pelan Shalawat Badar ust. Jefri Al buhori, “Sholatullah, Salamullah, Alathoha Rosulillah”. Semakin segar udara kurasakan masuk ke rongga dadaku, kuhirup semaksimal mungkin kunikmati itu, perlahan tapi pasti jiwaku menelasah, terbasuh kala Sulis memperdengarkan Tobat, “Duh Gusti Kulo Nyuwun Ngapura” Ya Allah ampuni semua dosaku, hamba-Mu yang teramat bebal, di Dahiku terberkas hitam tanda terlalu banyak dunia di kepalaku, terlalu besar obsesi yang tertanam di dalamnya, terlampau jauh aku tersesat dalam perjalananku, betapa bertumpuk cita-cita yang tertanam di Alam bawah sadarku, hari-hariku hanya dipenuhi dengan keinginan. Tiap pagi aku terbangun dengan mengebu atau mungkin lebih tepat dengan napsu mengejar duniawi tanpa ujung.
Pengakuan
Sulis,
Wahai tuhan aku bukanlah ahli surga
Juga tak mampu menahan siksa neraka
Kabulkan taubat ampuni dosa-dosaku
Hanyalah engkau maha pengampun dosa-dosa hamba-Mu
Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu
Ya.. Illahi kumohon rahmat kasih – Mu
Sisa umurku berkurang setiap hari
Dosa-dosaku makin bertambah ya Illahi
Hamba-Mu ini bersimpuh menyerahkan diri
Mengaku menyeru dan memohon Ampunan-Mu
Bila kau ampuni hanya engkau maha Pengampun
Bila kau berpalingg… kemana lagi harapanku
Mengalun lembut dalam relung terdalamku, ya….. kemana lagi aku berpaling ketika Engkau tak lagi memperdulikanku karena kebebalanku, kemana lagi aku akan meminta ketika Engkau tak hiraukan, kemana lagi aku berlindung ketika Kau tak acuh, kemana lagi aku bermohon ketika Kau hanya diam, kemana lagi aku akan menuju ketika Kau kututup dengan dinding kesombonganku. Kemana lagi kalau hanya pagar keinginan menjulang tinggi memenjarakan aku di dalamnya.
Tobat
Sulis,
Duh Gusti ingkang prakoso
Kagungan isining dunyo
Sing gawe mesti lan juntho
Keparing adil lan mulyo
Duh Gusti ingkang kuwoso
Moho adil lan apuro
Ngeparing ampun Kawulo
Duh Gusti Allah ya Robbi
Pangeraan kang maha suci
Sembah sujud kagem gusti
Sholawat kagem sang nabi
Duh Gusti ingkang prakoso
Kagungan isining dunyo
Sing gawe pesti lan juntho
Keparing adil lan mulyo
Manungso podho elingo
Neng dunyo namung sedhelo
Siro kabeh kebak duso
Enggal-enggal ndang tobato
Dikutip dari buku La Tahzan - Jangan Bersedih
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









1 komentar:
nice post, bro....
Posting Komentar